Ultimate Fighting Championship

Terimakasih kepada para petarung karena mereka telah memanusiakan saya kembali, ujar seseorang eksekutif muda usai menonton tayangan UFC di televisi swasta. Bagaimana bisa adegan ekstrem yang sarat dengan saling pukul, saling tendang, bekuk-membekuk, banting-membanting, lipat-melipat, dan menyiratkan aroma darah bahkan fatal mengakibatkan kematian itu bisa mengembalikan harkat manusianya? Bukan malah sebaliknya, mengungkap naluri hewaninya ke permukaan?


"Seharian bekerja" kilahnya "telah membentuk aku menjadi mesin ekonomi. "Anda tahu" tanyanya "apa artinya mesin?" "Bekerja secara mekanis tanpa perasaan". "Lalu prinsip ekonomi" apa artinya?

Saya mencoba mengingat-ingat kembali pelajaran ekonomi yang pernah saya pelajari di SLTA dulu. "Kalau tidak salah" jawab saya "dengan modal sekecil-kecilnya meraih untung yang sebesar-besarnya". Usai menjawab, tiba-tiba saya terkejut dan mencium sebuah firasat tertentu dibalik pendapatnya yang aneh itu.

"Itulah" tukasnya cepat "anda pikir ... apa konsekwensi logis dari prinsip itu?"

"Penghalalan segala cara".
"Manusiawikah itu?" sergahnya cepat.
"Manusiawi juga" jawabku. Ia tampak kaget tidak menduga dan berusaha protes. "Manusiawi, tapi purbawi" lanjut saya kalem. Ia tampak kembali mereda dan menghela nafas panjang.


"Seharian, hari demi hari bahkan tahun demi tahun, aku menjelma jadi mesin" ujarnya setengah mengeluh "dan ketika menyaksikan seseorang petarung membanting lawannya - seperti tanpa perasaan - tiba-tiba naluriku sebagai manusia kembali tumbuh. UFC, atau olahraga keras lainnya, seakan menyadarkan kembali bahwa ternyata aku masih manusia".

"Itu kan olahraga" cetus saya sekenanya.

"Aku tahu" sergahnya, "aku bahkan cenderung menyebut mereka pahlawan. Mereka telah berjasa memanusiakan kembali manusia".

Dari pendapat yang rada-rada kontroversial itu saya menyimpulkan bahwa pada dasarnya kita semua perlu melakukan chatarsis. Membuka "lubang ventilasi" agar memperoleh semacam pencerahan setelah sekian lama terkungkung dalam situasi yang sebenarnya pengap.

Betapa banyak aturan-aturan umum yang sesungguhnya kontradiksi dengan aturan kita sebagai manusia. Artinya, begitu sering kita memerankan sesuatu yang antagonis atau berlawanan dengan nilai-nilai pribadi.


Politikus, polisi, pengusaha, lurah, pelajar atau bahkan presiden sekalipun ... adalah peran-peran eksternal yang seringkali memenjarakan kita untuk tidak "menjadi diri sendiri".

"Dunia ini, panggung sandiwara!"
Share on Google Plus

About Unknown

0 komentar:

Posting Komentar