Seorang anak meradang. Sepulang dari memancing kami berdua berjalan di tengah terik matahari dengan peluh di
sekujur tubuh. Jarak ke rumah masih jauh. Tak seekor ikan pun kami
peroleh. Tapi bukan itu "masalahnya" keluhnya. Di ujung pasar desa,
kami berpapasan dengan seorang tetangga. Ia menghentikan sepedanya dan
menawarkan boncengan kepada saya. Boncengan itu hanya cukup untuk satu
anak. Demi Ucil sahabat saya sepemancingan, saya tolak ajakan itu. Tapi
apa yang terjadi? Melihat saya menggeleng tetangga itu ganti menawari
Ucil, yang ... aduh maaaak, disambut dengan bernafsu oleh Ucil. Saya
merasa dikhianati. Mata saya tak berkedip melihat Ucil duduk tanpa
perasaan di atas boncengan sepeda, sampai keduanya menghilang di
kelokan jalan.
Bisa jadi anda pernah mengalami hal-hal seperti itu, walau dalam bentuk berbeda. Sebuah fabel tentang kura-kura adalah contoh lain bahwa menelikung kesetiakawanan adalah fenomena yang biasa terjadi dalam persahabatan.
Alkisah tiga-sekawan kura-kura menemukan seonggok makanan lezat. Bertiga mereka berembug untuk menyepakati, kapan mereka harus menyantap makanan tersebut.
"Sekarang saja" sergah kura-kura satu menahan air liur. "Jangan!" tukas kura-kura dua mengingatkan 'bukankah baru beberapa menit tadi kita makan pagi? Sebaiknya kita menyantapnya setelah benar-benar merasa lapar". Kura-kura tiga diam tak berkomentar. Akhirnya, mereka sepakat untuk menyimpannya.
Bertiga mereka menggali lubang dan menyembunyikan makanan itu ke dalamnya. Mereka berjanji untuk bertemu tiga hari kemudian di tempat yang sama.
Dari awal kura-kura dua curiga terhadap kura-kura satu yang memang dikenal rakus. Diam-diam dia menyelinap ke balik batu, mengintai. Malamnya, ia melihat kura-kura satu mengendap-endap mendekati lubang. Setelah menengok ke kiri dan ke kanan, kura-kura satu menggali makanan itu dan menyantapnya. Secepat kilat kura-kura dua keluar dari persembunyiannya dan berteriak : "Tuuuuh, kan.... sudah kuduga, kau pasti mengkhianati kesepakatan kita!". Dengan mulut penuh makanan kura-kura satu menyahut, "Sorry, aku tak tahan lagi. Aku bisa mati kalau tidak makan hari ini".
Ada orang yang memiliki karakter seperti kura-kura dua. Tipe ini selalu mencari momentum untuk membuktikan seberapa dalam rasa kesetiakawanan dipupuk. Ia rela bersusah payah hanya untuk mencari pembenaran dari rasa curiganya, kendati tak jarang terkaget-kaget sendiri menyaksikan hasil dari investigasinya. Sebaliknya di kelompok mana pun selalu ada tipe kura-kura satu. Mungkin dari sinilah sebutan "akal bulus" bermula. Sementara kura-kura tiga, adalah tipe yang tak pernah ambil pusing dengan komitmen.
Sayangnya dalam fabel itu tidak ada kura-kura empat, yang benar-benar murni commited terhadap kesepakatan - bebas dari rasa curiga - karena yakin tak perlu ada rasa curiga dalam persahabatan.
Bisa jadi anda pernah mengalami hal-hal seperti itu, walau dalam bentuk berbeda. Sebuah fabel tentang kura-kura adalah contoh lain bahwa menelikung kesetiakawanan adalah fenomena yang biasa terjadi dalam persahabatan.
Alkisah tiga-sekawan kura-kura menemukan seonggok makanan lezat. Bertiga mereka berembug untuk menyepakati, kapan mereka harus menyantap makanan tersebut.
"Sekarang saja" sergah kura-kura satu menahan air liur. "Jangan!" tukas kura-kura dua mengingatkan 'bukankah baru beberapa menit tadi kita makan pagi? Sebaiknya kita menyantapnya setelah benar-benar merasa lapar". Kura-kura tiga diam tak berkomentar. Akhirnya, mereka sepakat untuk menyimpannya.
Bertiga mereka menggali lubang dan menyembunyikan makanan itu ke dalamnya. Mereka berjanji untuk bertemu tiga hari kemudian di tempat yang sama.
Dari awal kura-kura dua curiga terhadap kura-kura satu yang memang dikenal rakus. Diam-diam dia menyelinap ke balik batu, mengintai. Malamnya, ia melihat kura-kura satu mengendap-endap mendekati lubang. Setelah menengok ke kiri dan ke kanan, kura-kura satu menggali makanan itu dan menyantapnya. Secepat kilat kura-kura dua keluar dari persembunyiannya dan berteriak : "Tuuuuh, kan.... sudah kuduga, kau pasti mengkhianati kesepakatan kita!". Dengan mulut penuh makanan kura-kura satu menyahut, "Sorry, aku tak tahan lagi. Aku bisa mati kalau tidak makan hari ini".
Ada orang yang memiliki karakter seperti kura-kura dua. Tipe ini selalu mencari momentum untuk membuktikan seberapa dalam rasa kesetiakawanan dipupuk. Ia rela bersusah payah hanya untuk mencari pembenaran dari rasa curiganya, kendati tak jarang terkaget-kaget sendiri menyaksikan hasil dari investigasinya. Sebaliknya di kelompok mana pun selalu ada tipe kura-kura satu. Mungkin dari sinilah sebutan "akal bulus" bermula. Sementara kura-kura tiga, adalah tipe yang tak pernah ambil pusing dengan komitmen.
Sayangnya dalam fabel itu tidak ada kura-kura empat, yang benar-benar murni commited terhadap kesepakatan - bebas dari rasa curiga - karena yakin tak perlu ada rasa curiga dalam persahabatan.

0 komentar:
Posting Komentar