Bab I. Pendahuluan (Pribadi - Buya Hamka)

Setelah suatu bangsa yang terjajah beratus tahun lamanya mencapai kemerdekaannya dengan perjuangan yang hebat, timbullah dengan jelas beberapa orang yang berjalan dimuka sekali, yang harganya sebagai orang seorang kadang-kadang lebih dari pada bermeliun-meliun orang. Orang yang seperti itulah yang membentuk sejarah yang hebat dan besar, karena keberaniannya bertanggung jawab dan tangkas menetapkan suatu jalan yang akan ditempuh. Maka boleh dikatakan bahwasanya fikiran umum dibentuk hanya oleh beberapa orang saja.


Teringatlah kita kepada nama yang besar sejak kita berjuang, sejak dari Sukarno-Hatta yang memenuhi riwayat revolusi sejak awal sampai akhirnya. Syahrir yang menciptakan Linggardjati. Muso yang berontak di Madiun. Hamangku Buwono, M. Natsir, Rum, Syafrudin dan lain-lain yang turut meneruskan perjuangan.

Jika orang yang demikian, sebelum namanya timbul, berdiri ditengah-tengah orang banyak, apalah kelebihannya dari orang lain, yang merasai haus dan lapar sedih dan gembira juga. Bahkan dalam zaman kemasyhurannya itupun, mereka itu masih tetap manuasia.Jelas benar kemanusiaanya itu bilamana mereka itu dilepaskan dari pada ikatan tradisi atau pakaian resmi, bila duduk-duduk bercengkerama dan bersenda gurau dengan temannya.

Maka dimanakah letaknya manusia yang pada suatu waktu mencapai derajat luar biasa itu?

Sekarang baru nampak beberapa orang yang mashyur karena revolusi, atau karena kepandaian berpolitik. Padahal dalam lapangan yang lainpun tidak kurang orang yang demikian. Ingatlah Dasaad dalam perlombaan ekonomi, Chairil Anwar dalam bersastra. Dr. H.A. Karim Amrullah dalam keteguhan beragama, Adinegoro dalam jurnalistik.

Jangan dalam kalangan orang yang terkenal saja. Mari kita tilik orang tani yang turut berjuang memberikan harta-bendanya pada zaman pemerintahan berjuang. Atau tukang becak yang mendapat penghormatan istimewa dari Bung Karno ketika beliau mulai pindah dari Jogja ke istana Gambir. Ataupun 'bok Sarinah, sebagai lambang Ibu Indonesia. Ataupun pegawai-pegawai pamongpraja yang bekerja pada kantor2. Semuanya itu, dan semuanya pula nama yang lain, yang selalu terlintas dihadapan mata, terdengar ditelinga dan terbaca dalam surat2 kabar. Mengapa maka ada nama-nama itu? Padahal banyak lagi yang tidak tersebut, yang tidak terkenal?

Setiap hari kita tidak akan lepas dari pada memperkatakan: orang yang mashyur atau yang tidak mashyur, orang yang sangat luar biasa atau orang yang biasa saja. Kita akan memperkatakan kemuliaan atau kekurangan seseorang. Seorang pencuri atau perampok besar yang sangat berani merampok rumah orang pada waktu tengah hari, ditempat yang sangat ramai, semuanya itu tidak akan lepas dari pada pembicaraan kita. Sahabat kita yang karib, yang paling kita cintai atau musuh kita yang kita pandang sangat busuk dan yang paling kita benci. Semuanya menjadi pembicaraaan kita, semuanya mendapat kupasan dari kita.

Apanyakah yang kita bicarakan?
Kalau kita bicarakan Presiden Sukarno, misalnya, apanya yang kita bicarakan? Mengapa maka setiap hari Sukarno itu tidak lepas dari mulut kita?

Yang kita bicaraka ialah diri orang. Dan yang manakah diri itu? Tubuhnya yang gagahkah? Padahal banyak pula orang yang lebih gagah dari pada dia? Kepandaiannya berpidatokah? Pada hal ucapan yang dikeluarkannya itupun dapat pula ditiru oleh orang lain. Bahkan orang lainpun sanggup berpidato lebih berisi dari pada pidatonya.

Itulah suatu pengajian yang telah lama sekali. Diogenes pernah dituduh orang, bahwa ia orang tua gila, sebab dibawanya lentera tiap hari, disiginya segala muka orang yang bertemu, karena dia tengah mencari! Mencari! Mencari orang yang sukar didapatnya, yaitu mencari ORANG! Siang hari dibawanya lampu, disiginya muka orang, karena dalam manusia yang sebanyak itu belum juga ia bertemu dengan yang dicari. Yaitu yang sebenar orang!

Ali bin Abi Thalib pernah menyairkan:

'Manusia dipandang dari segi tubuh hanya sama'
'Ayahnya Adam dan ibunya Hawa'
'Kalau mereka itu membangga-banggakan keturunan'
'Keturunannyapun sama, tanah dan air'


Kalau begitu mengapa timbul keistimewaan, baik atau mulia pada setengah orang atau setengah golongan? Dan kenapa ada yang datang kedunia tidak terkenal dan hilangnya dari duniapun tidak terkenal?

Maka tidaklah pantas lagi kita menuduh Diogenes, kitapun tengah mencari yang dicarinya!

Dahulu kala orang yang luar biasa didalam tarich, ialah orang yang menciptakan pekerjaan yang besar2, baik yang sangat mulia, baikpun yang menjadikan dia amat mashur sangat hina, sebagai Alcapone di Amerika. Karena ilmu pengetahuan tentang hal manusia itu belum maju, maka orang yang luar biasa itu di keluarkan lalu dari golongan manusia. Kalau dia orang baik, sampailah disamakan derajatnya dengan malaikat, bahkan disamakan dengan Tuhan atau di Tuhankan. Dibuat patung berhala buat buat memuja namanya. Sebaliknya kalau dia penjahat, disamakan dengan setan.

Kian lama kian majulah ilmu pengetahuan itu. Sejak 2000 tahun yang telah lalu Socrates menyuruh mempelajari kepada manusia, siapa dirinya sendiri. Ajaran Socrates itu dilanjutkan sampai sekarang ini. Kemanusiaan dikupas, diri manusia sendiri-sendiri dikupas.

Binatangkah ia semata-mata, atau setankah semata-mata, atau kumpulan keduanya? Dikupas orang apa yang bernama Nafs, Aku, DIRI: apa yang dinamakan akal, fikiran, cita-cita, kemauan, perasaan dan lain-lain. Pada akhirnya dapatlah orang mempelajari siapa AWAK itu: Tubuhkah dia atau nyawakah? Atau kumpulan keduanya? Atau sipat kelebihankah dan kekurangankah yang ada padanya?

Disitulah pokok pembicaraan tentang Diri Pribadi. Semasa ilmu pengetahuan tentang hal itu belum dapat dipopulerkan, maka didalam kalangan orang yang berilmu, sebab membaca bahasa asing, lebih cepat diterima oleh akalnya jika disebut dalam bahasa bahasa Inggris, Personality. Atau dalam bahasa Belanda, persoonlijkheid.

Sebelum Jepang dan sebelum revolusi, telah dicobakan orang meng-Indonesiakan kata itu dengan menyebut Diri Pribadi. Tapi dalam zaman revolusi dapatlah orang mencari kata-kata yang baru, yang mulanya rasa-rasa tidak tepat, tetapi kian lama kian tepat dan kian diterima oleh fikiran untuk mengartikan bahasa asing itu, yaitu Diri Pribadi. Akhirnyapun lebih pendek dan masuk juga dalam fikiran orang, yaitu:



'PRIBADI'
Kemajuan pribadi suatu kumpulan bangsa atau kemerdekaannya, sekali-kali tidak akan tercapai, kalau lebih dahulu belum ada kemajuan dan kemerdekaan pribadi orang seorang. Tanda-tanda menunjukkan bahwasanya derajat kemajuan dan kejayaan yang didapat oleh beberapa manusia dalam lapangan yang dimasukinya, dapat pula dicapai oleh orang yang lain. Asal saja orang itu mempunyai pribadi yang kuat. Kemajuan pribadi sendiri, akan menentukan tempat kita yang pantas dalam pergaulan hidup, dalam lapangan apa juapun.


=Sumber =
Judul Buku : P R I B A D I - Penulis Buya Hamka, Bab I. Pendahuluan



Share on Google Plus

About Unknown

0 komentar:

Posting Komentar