Didalam kantor kontelir Maninjau, kira2 dalam tahun 1938, Dr. H.A. Karim Amrullah, diberi nasihat oleh kontelir supaya bersikap hati-hati ketika mentafsirkan Al Quran. Beliau menjawab bahwa beliau telah cukup hati-hati, tetapi buat memutar tafsir Al Quran dari pada maksudnya yang sejati sepanjang pengetahuannya, beliau tidak sanggup.
Dengan ikhlas beliau menyatakan, bahwa beliau tidak sanggup.
Kontelir menyatakan dengan tegas, bahwa kalau beliau tidak menyanggupi nasihatnya, berbahayalah bagi diri beliau sendiri. Beliau mungkin diasingkan, karena bukti-bukti sudah lama dikumpulkan.
Sebagai manusia beliau merasa juga tekanan perasaan karena ancaman itu. Sudah lama beliau merasa bahwa dirinya dipandang berbahaya dan diancam akan dibuang, tetapi dia terus juga menafsirkan Al Quran, menurut arti yang diketahuinya. Sekali lagi dia dipanggil (sampai 8 kali telah dilakukan panggilan semacam itu). Akhirnya dengan ikhlas beliau menyatakan, bahwa dia tidak dapat mengartikan Al Quran lain dari pada tafsirnya yang sejati. Karena Al Quran itu sendiri yang melarang memutar artinya kepada yang bukan maksudnya.
Dia masih terus manafsirkan Al Quran, masih terus bertabligh agama kemana-mana, berdasarkan Al Quran. Dan akhirnya penjajahan Belanda tidak dapat menahan sikapnya lagi. Beliau dibuang ke Sukabumi.
Sampai disana, ketika ditanya oleh pers, beliau tetap mengatakan bahwa beliau tidak merasa bersalah. Beliau bersedia dihadapkan kemuka hakim! Bukankah buangan itu hak istimewa penjajah, untuk memperkokoh kekuasaannya?
Belanda jatuh, Jepang pun datang. Jepang sangat hormat kepadanya, hormat politik! Karena Jepang menyangka bahwa beliau anti Belanda. Kalau bukan anti Belanda, mengapa dibuang? Penghormatan itu diterimanya dengan gembira. Banyak opsir Jepang yang menziarahi rumahnya di Tanahabang, Jakarta. Disambutnya dengan baik. Pada suatu hari diadakan rapat ulama di kabupaten Bandung. Beliau turut diundang dan diberi tempat istimewa. Lain dari pada tempat ulama yang banyak itu. Ketika rapat akan dimulai, semuanya dipersilahkan supaya 'Keirei', artinya 'rukuk' menghadap keistana kaisar Jepang di Tokyo.
Semua orang berdiri akan rukuk, tetapi beliau tinggal duduk. Alangkah hebatnya pertentangan jiwanya pada waktu itu. Dia tahu bahwa perbuatannya itu sangat berbahaya. Jiwanya akan terancam, Kenpei-tai akan bertindak. Dia sudah lama mendengar kekejaman Jepang, main tampar tempeleng, main bunuh terhadap siapa yang tidak mengikut kebudayaan yang dianjurkannya. Tentu ada juga dalam hatinya perasaan takut, tetapi dilawannya dengan perasaan yang lebih murni, yaitu ikhlas kepada Allah, ikhlas kepada pengetahuannya tentang agama. Dia tetap duduk.
Kejadian itu hanya kira-kira satu menit. Tetapi dia telah melukiskan suatu sebutan buat beratus, bahkan beribu tahun. Drs. Mohammad Hatta pernah mengatakan, "Beliaulah anak Indonesia yang dahulu sekali dengan berterang-terang menghadapkan revolusinya kepada Jepang, dengan kekuatan jiwa."
- Sumber -
P R I B A D I - Buya Hamka, Bab IX. Kesempurnaan Pribadi (Halaman 111), 2. Ikhlas (Halaman 122)
Dengan ikhlas beliau menyatakan, bahwa beliau tidak sanggup.
Kontelir menyatakan dengan tegas, bahwa kalau beliau tidak menyanggupi nasihatnya, berbahayalah bagi diri beliau sendiri. Beliau mungkin diasingkan, karena bukti-bukti sudah lama dikumpulkan.
Sebagai manusia beliau merasa juga tekanan perasaan karena ancaman itu. Sudah lama beliau merasa bahwa dirinya dipandang berbahaya dan diancam akan dibuang, tetapi dia terus juga menafsirkan Al Quran, menurut arti yang diketahuinya. Sekali lagi dia dipanggil (sampai 8 kali telah dilakukan panggilan semacam itu). Akhirnya dengan ikhlas beliau menyatakan, bahwa dia tidak dapat mengartikan Al Quran lain dari pada tafsirnya yang sejati. Karena Al Quran itu sendiri yang melarang memutar artinya kepada yang bukan maksudnya.
Dia masih terus manafsirkan Al Quran, masih terus bertabligh agama kemana-mana, berdasarkan Al Quran. Dan akhirnya penjajahan Belanda tidak dapat menahan sikapnya lagi. Beliau dibuang ke Sukabumi.
Sampai disana, ketika ditanya oleh pers, beliau tetap mengatakan bahwa beliau tidak merasa bersalah. Beliau bersedia dihadapkan kemuka hakim! Bukankah buangan itu hak istimewa penjajah, untuk memperkokoh kekuasaannya?
Belanda jatuh, Jepang pun datang. Jepang sangat hormat kepadanya, hormat politik! Karena Jepang menyangka bahwa beliau anti Belanda. Kalau bukan anti Belanda, mengapa dibuang? Penghormatan itu diterimanya dengan gembira. Banyak opsir Jepang yang menziarahi rumahnya di Tanahabang, Jakarta. Disambutnya dengan baik. Pada suatu hari diadakan rapat ulama di kabupaten Bandung. Beliau turut diundang dan diberi tempat istimewa. Lain dari pada tempat ulama yang banyak itu. Ketika rapat akan dimulai, semuanya dipersilahkan supaya 'Keirei', artinya 'rukuk' menghadap keistana kaisar Jepang di Tokyo.
Semua orang berdiri akan rukuk, tetapi beliau tinggal duduk. Alangkah hebatnya pertentangan jiwanya pada waktu itu. Dia tahu bahwa perbuatannya itu sangat berbahaya. Jiwanya akan terancam, Kenpei-tai akan bertindak. Dia sudah lama mendengar kekejaman Jepang, main tampar tempeleng, main bunuh terhadap siapa yang tidak mengikut kebudayaan yang dianjurkannya. Tentu ada juga dalam hatinya perasaan takut, tetapi dilawannya dengan perasaan yang lebih murni, yaitu ikhlas kepada Allah, ikhlas kepada pengetahuannya tentang agama. Dia tetap duduk.
Kejadian itu hanya kira-kira satu menit. Tetapi dia telah melukiskan suatu sebutan buat beratus, bahkan beribu tahun. Drs. Mohammad Hatta pernah mengatakan, "Beliaulah anak Indonesia yang dahulu sekali dengan berterang-terang menghadapkan revolusinya kepada Jepang, dengan kekuatan jiwa."
- Sumber -
P R I B A D I - Buya Hamka, Bab IX. Kesempurnaan Pribadi (Halaman 111), 2. Ikhlas (Halaman 122)

0 komentar:
Posting Komentar