Gaji Dan Korupsi

Mampukah gaji bisa meningkatkan kinerja seseorang? Jawabnya bisa "iya" dan bisa "tidak". Dan keraguan tetap merebak ketika usul kenaikan gaji bagi pegawai negeri termasuk para pejabat tinggi negara dilancarkan.


Nyaris tidak terdengar suara sumbang bagi usulan kenaikan gaji untuk pegawai negeri, yang kita tahu selama ini hidup secara akrobatik dengan gaji pas-pasan, gali lubang tutup lubang - gali lubang lagi tutup lubang lagi - dan seterusnya. Namun jumlah yang lebih besar untuk kenaikan gaji Presiden dan Wakil Presiden, Menteri, dan anggota DPR, terasa ironis jika dikaitkan dengan kondisi ekonomi yang masih terpuruk.

Ada ambivalensi yang muncul ke permukaan berkaitan dengan usulan kenaikan gaji pejabat ini. Di satu sisi, ada pemahaman bahwa bagaimana mungkin mereka akan bekerja optimal apabila kesejahteraan hidupnya tidak terjamin? Namun di sisi yang lain muncul pula keraguan, apakah dengan kenaikan gaji itu akan menjamin mereka tidak berbuat korup???

Adalah rahasia umum, terutama pada periode-periode terdahulu, bahwa gaya hidup sebagian besar pejabat di negeri ini jauh lebih mahal dibanding jumlah gaji yang mereka terima. Misalnya dengan gaji hanya berkisar 5 juta, seorang Menteri atau pejabat tinggi mampu memiliki beberapa rumah dan mobil-mobil mewah. Dari sinilah muncul hipotesa bahwa perbuatan korup muncul akibat kurangnya gaji yang mereka peroleh.

Hipotesa ini belum tentu benar. Perbuatan korup adalah refleksi dari sikap mental. Dengan sendirinya perbuatan korup tidak hanya dilakukan oleh seseorang yang tidak berkecukupan, tapi juga bisa dilakukan oleh mereka yang sebenarnya sudah sangat berkecukupan.

Persoalannya menjadi pelik lantaran ukuran "cukup atau tidak" adalah sesuatu yang relatif. Ada pejabat yang merasa cukup dengan hanya memiliki satu mobil. Namun banyak yang merasa belum puas jika kolam renangnya belum seukuran Olympic.

Kita menjadi terenyuh jika kemudian berpikir tentang eksistensi harta maupun benda. Sepenggal puisi dari kumpulan judul "Sembayang Rumputan" terasa sangat relevan dan jernih menjelaskan hakekat dari makanan, yang merupakan simbol dari harta benda.

Sepotong roti dan sebutir telur
Bergetar merasakan
Sepasang mata gelandangan menatapnya

Sepotong roti dan sebutir telur
Berlinang air mata
Ketika seorang koruptor
Bersiap menyantapnya

 

Allah menciptakan roti dan telur, untuk memenuhi kebutuhan perut yang lapar. Bukan untuk memenuhi kebutuhan hati yang serakah.

Sebagai penutup, kita coba kutip kata bijak dari Ibnu Sina tentang harta benda:

"Orang yang arif itu dermawan. Bagaimana dia tidak akan dermawan, karena harta benda baginya bukanlah kekayaan dan kemuliaan. Kekayaan yang sejati ialah cintanya akan kebenaran.
Share on Google Plus

About Unknown

0 komentar:

Posting Komentar