Rasa Wajib - Buya Hamka


24 jam sehari semalam kita diberi modal waktu, untuk melakukan kewajiban. Kewajiban menjalankan perintah agama yang diyakini, kewajiban seorang dokter terhadap pasiennya, kewajiban seorang presiden terhadap rakyatnya, kewajiban seorang suami terhadap istri dan anaknya, dan sebaliknya kewajiban seorang istri terhadap suami dan anaknya, dll. Dan alangkah banyaknya modal waktu itu! Padahal kadang-kadang suatu pekerjaan besar dapat dimulai dan diciptakan dalam beberapa menit saja. Beberapa menit Sukarno-Hatta mengucapkan proklamasi?

Apakah yang dikatakan kewajiban dan apakah artinya yang sebenarnya? Kewajiban sejati yaitu sesuatu yang diperintahkan oleh hati sendiri, bukan yang diperintahkan orang lain. Kewajiban yang diperintahkan dari hati sendiri, adalah hakekat kewajiban. Telanjangi batin kita dari pada pengaruh yang lain dan selubung yang lain, jemur dia dihadapan cahaya Tuhan, langsungkan hubungan dengan Dia. Batin yang demikian, karena sudah dibasuh dan langsung mendapat cahaya tentu akan hidup. Dia akan dapat menentukan mana yang buruk dan mana yang baik. Mana yang mesti di perbuat dan mana yang tak mesti dikerjakan. Mendustai batin adalah dusta yang paling besar. Memikul kewajiban yang bukan kewajiban diri sendiri, adalah menipu diri sendiri, menghabiskan usia sendiri dan menjatuhkan pribadi.

Jika kita terlanjur berbuat yang dibantah oleh batin kita, karena dikalahkan oleh nafsu kita, maka batin meraung, memprotes, berontak. Itulah neraka jahanam dalam hidup!

Emmerson mengatakan, ‘Manusia yang bekerja karena didorong rasa wajib, akan gembira mengerjakan pekerjaan itu. Rasa wajib itu dengan sendirinya memaksa diri supaya berjalan terus dan lurus. Dalam itu timbullah koreksi akan kekurangan diri. Sehabis dikerjakan suatu kewajiban dari perintah hati tadi, timbullah rasa senang, puas dan gembira. Itulah surga hidup! Walaupun orang lain melihat kita dalam kesengsaraan. Dia tidak mengenal rasa takut dan gentar, 'Hidup dan mati sama saja’, Maka apa yang diperintahkan batin itu bernama ‘KEBENARAN’ atau Al-Haqq.

Al-Haqq min rabbika, fala takunana minal muntarim. Kebenaran dari Tuhan: janganlah ragu! (Al Quran).

Untuk memikul kewajiban itu sehingga tidak ada yang berat, jiwa itu sendiri harus tinggi derajatnya. Jika sempit tempat engkau di alam yang kacau-balau ini, tingkatlah awan dan naiklah kebintang. Turun balik dan lakukan kewajiban. Setengah dari pada tangga untuk naik keatas itu, cinta kepada yang indah, yang molek! Tuhan indah dan suka kepada keindahan. Musik yang tinggi, syair yang tinggi adalah rumus, alamat, atas adanya Zat Yang Maha Tinggi.

Diperhalus jiwa itu dengan pembacaan yang berfaedah, dengan tasauf, dengan filsafat, dengan ciptaan ahli seni. Bertambah halus perasaan, bertambah nampaklah kewajiban kita dalam hidup. Demikianlah, pribadi yang besar telah timbul didunia ini, dahulu, sekarang dan nanti. Oleh karena perintah dari hati yang halus itu, mereka telah melakukan kewajibannya.

Didepan kita ada terbentang jalan, sebanyak kita, sebanyak itu pula jalan. Suara itu mencurahkan menempuh jalan itu. Roh yang suci menurut dengan taat, walaupun badannya akan payah, namun dia puas jua. Adapun jiwa yang lemah, dia bimbang, ragu dan takut-takut.

Maka bekerjalah manusia itu dengan penuh kepercayaan kepada Tuhan. Dalam ajaran agama Islam yang saya peluk ada tersebut bahwasanya seluruh pekerjaan didalam hidup kita itu, asal kita niatkan, adalah ibadat (bakti) belaka. Bukannya sembahyang dan puasa saja yang dikatakan ibadat itu. Mengurus Negara, jadi ahli politik, jadi saudagar, bahkan segenap cabang pekerjaan, sehingga menyekolahkan anak dan membelanjai isteripun ibadat jua.

Itulah KEINDAHAN HIDUP.

Sumber : Buku 'PRIBADI' - Buya Hamka, Halaman 84
Share on Google Plus

About Unknown

0 komentar:

Posting Komentar