Soal kehidupan pribadi, pers Arab Saudi berseberangan dengan Inggris dan Amerika Serikat yang senang mengorek-ngorek tempat sampah keluarga kerajaan, kepala negara dan pesohor. Kehidupan keluarga Kerajaan Arab Saudi dibiarkan tak terusik. Berita tentang Islam dan keluarga kerajaan sajian empuk yang bisa mereka otak-atik menjadi suatu kontroversi.
Secara personal, Raja Abdullah adalah sosok yang sederhana. Ketika orang-orang kaya –termasuk orang kaya di Indonesia- senang berliburan ke Amerika dan Eropa, ia lebih memilih menikmati liburan di sebuah kamp di padang pasir. Sejenak beristirahat dari kepenatannya.
Ia sangat menjaga diri dari ketenaran dan pencitraan. Namun sangat
dekat dengan rakyatnya dengan sering mengunjungi mereka dan tidak segan
makan humberger (makanan kuli Amerika) di restoran umum.
Sedikit demi sedikit ia menghapus kultur sikap berlebihan terhadap raja. Tradisi mencium tangan raja ia kikis. Ia lebih suka pundaknya yang dicium karena lebih menggambarkan kesetaraan. Hingga punggungnya pernah terkilir saat berusaha menghindari desak-desakan warga yang berebut mencium tangannya.
Seandainya kebijakan dan sikap tegasnya diberitakan sedikit mirip dengan Recep Tayp Erdogan saja, tentu akan berbeda keadaannya. Namun bos-bos media tidak akan rela umat Islam bersatu dengan raja pelayanan dua tanah haram ini.
Pangeran Abdullah yang saat itu masih menjabat sebagai putra mahkota tidak menerima undangan dari Washington karena dukungan AS terhadap Israel di Intifada Kedua.
Pada bulan Agustus 2001, Pangeran Abdullah menarik Duta Besar Arab Saudi untuk AS, Pangeran Bandar bin Sultan, hal ini terjadi setelah Abdullah menyaksikan kebrutalan tentara Israel terhadap seorang wanita Palestina. Ia kemudian juga mengutuk Israel karena menyerang keluarga Palestina yang mereka tuduh dengan suatu tuduhan.
Karena melihat perempuan muslimah diserang saja, ia sudah menarik duta besarnya. Sayang berita seperti ini tidak menarik bagi media..
Pada hari Jumat tanggal 23 Januari 2015, sang reformis ini wafat. Allah mengaruniakannya usia yang panjang selama 90 tahun. Pada masa hidupnya, ia pernah dinobatkan menjadi orang muslim paling berpengaruh di dunia selama 4 tahun berturut-turut, 2009-2012. Bahkan pada tahun 2012, ia dinobatkan sebagai 7 orang paling berpengaruh di dunia. Namun, kontras dengan hal itu, upacara pemakamannya sangat sederhana bahkan mungkin lebih sederhana dari seorang pejabat daerah di negeri kita.
Prosesi pemakamannya sangat sederhana. Tidak ada iringan pasukan dalam prosesi pemakamannya, tidak juga suara terompet atau tembakan salvo. Sangat sederhana. Pemakamannya hanya berlangsung sesuai syariat Islam yang mulia; dimandikan, dikafani, dishalatkan, kemudian diberangkatkan ke pemakaman untuk dimakamkan di sana.
Simak selengkapnya di: http://kisahmuslim.com/raja-abdullah-bin-abdul-aziz-reform…/
Sedikit demi sedikit ia menghapus kultur sikap berlebihan terhadap raja. Tradisi mencium tangan raja ia kikis. Ia lebih suka pundaknya yang dicium karena lebih menggambarkan kesetaraan. Hingga punggungnya pernah terkilir saat berusaha menghindari desak-desakan warga yang berebut mencium tangannya.
Seandainya kebijakan dan sikap tegasnya diberitakan sedikit mirip dengan Recep Tayp Erdogan saja, tentu akan berbeda keadaannya. Namun bos-bos media tidak akan rela umat Islam bersatu dengan raja pelayanan dua tanah haram ini.
Pangeran Abdullah yang saat itu masih menjabat sebagai putra mahkota tidak menerima undangan dari Washington karena dukungan AS terhadap Israel di Intifada Kedua.
Pada bulan Agustus 2001, Pangeran Abdullah menarik Duta Besar Arab Saudi untuk AS, Pangeran Bandar bin Sultan, hal ini terjadi setelah Abdullah menyaksikan kebrutalan tentara Israel terhadap seorang wanita Palestina. Ia kemudian juga mengutuk Israel karena menyerang keluarga Palestina yang mereka tuduh dengan suatu tuduhan.
Karena melihat perempuan muslimah diserang saja, ia sudah menarik duta besarnya. Sayang berita seperti ini tidak menarik bagi media..
Pada hari Jumat tanggal 23 Januari 2015, sang reformis ini wafat. Allah mengaruniakannya usia yang panjang selama 90 tahun. Pada masa hidupnya, ia pernah dinobatkan menjadi orang muslim paling berpengaruh di dunia selama 4 tahun berturut-turut, 2009-2012. Bahkan pada tahun 2012, ia dinobatkan sebagai 7 orang paling berpengaruh di dunia. Namun, kontras dengan hal itu, upacara pemakamannya sangat sederhana bahkan mungkin lebih sederhana dari seorang pejabat daerah di negeri kita.
Prosesi pemakamannya sangat sederhana. Tidak ada iringan pasukan dalam prosesi pemakamannya, tidak juga suara terompet atau tembakan salvo. Sangat sederhana. Pemakamannya hanya berlangsung sesuai syariat Islam yang mulia; dimandikan, dikafani, dishalatkan, kemudian diberangkatkan ke pemakaman untuk dimakamkan di sana.
Simak selengkapnya di: http://kisahmuslim.com/raja-abdullah-bin-abdul-aziz-reform…/

0 komentar:
Posting Komentar