Tokoh dan Buku


Kata cerdik pandai ada dua hal yang akan membentuk seseorang. Pertama, tokoh yang ia kagumi. Dan kedua, buku apa yang ia baca. Ketika kami sepakat untuk menjadikan pendapat itu sebagai landasan diskusi, maka perbincangan pun meningkat kepada tokoh dan buku. Diskusi menjelang pagi ini merupakan sesi kedua di sela-sela ronda malam. Sudah sebulan ini kampung kami tak aman. Ada saja rumah-rumah yang kemalingan. Oleh karenanya, kebijakan ronda bergiliran ini disambut antusias oleh warga.

Yang menarik, kendati tokoh-tokoh terkenal tidak ikut, diskusi ini terasa cukup berbobot. Ini masuk akal, karena pesertanya bukan tukang jaga malam betulan. Ada manajer bank, pegawai negeri, mahasiswa, juga wartawan.

Diskusi minggu lalu bertopik "pengangguran". Kami menyimpulkan bahwa pengangguran yang semakin meningkat akan menjadi bom waktu. Mengapa? Karena kebutuhan para penganggur semakin mengarah kepada kebutuhan primer. Logikanya begini. Ketika seseorang menganggur sementara ia masih punya sandang, pangan maupun papan, kami menganggap ia masih punya daya tahan. Namun ketika kontrakan rumah tinggal beberapa bulan dan sisa uang pesangon menipis, maka ia akan mempertahankan kelangsungan hidup maupun keluarganya....dengan berbagai cara.

Cara pertama, tentu saja bertumpu pada akal sehat, berusaha mencari pekerjaan atau usaha baru. Jika berkali-kali upaya itu gagal, secara perlahan-lahan ia akan memasuki wilayah "akal tidak sehat". Ini disimpulkan oleh rekan seronda yang manajer bank.

"Apa maksudnya wilayah "akal tidak sehat"? tanya si pegawai negeri.
"Pergi ke dukun misalnya!" sergah wartawan.
"Itu juga bentuk ikhtiar" kata si pegawai negeri.

Betapa pun terasa adanya perbedaan pendapat, diskusi minggu lalu menyepakati bahwa pengangguran sungguh bukan masalah sederhana. Bahkan kami meyakini bahwa pemerintah tidak akan bisa mengatasi masalah serius ini sendirian. Artinya, perlu melibatkan kalangan swasta serta masyarakat.

Topik malam ini lebih khusus, karena langsung bisa ditanyakan kepada peserta tentang tokoh yang dikagumi dan buku yang dibaca.

"Anda?" manajer bank yang menjadi 'moderator' bertanya kepada wartawan. "Saya penggemar Mahatma Gandhi, dan suka membaca buku Dale Carnegie" jawab wartawan tangkas.


"Kalau anda?" manajer bank bertanya kepada pegawai negeri. "Bung Hatta, dan bukunya ... Layar Terkembang".


"Kalau anda?" manajer bank bertanya kepada mahasiswa "Tokohnya: ibu saya, dan suka membaca buku 'Competing The Future".


"Nah, tinggal anda!" menunjuk kepada saya. "Susah" saya mengeluh "tokoh yang saya kagumi banyak, buku yang saya baca juga banyak". "Pilih yang paling Anda kagumi!" desaknya. Sejenak saya berpikir. "Saya kagum kepada seseorang yang tak perlu saya sebut namanya karena Anda semua tidak mengenalnya. Tentang buku, saya benar-benar terkesima membaca "The Old Man and The Sea" penulisnya Hemingway" jawab saya serius.

Tiba-tiba si manajer bank tertawa terbahak-bahak.

"Karena tahu maksud pertanyaannya, tentu saja tidak ada yang menyebut Hitter, atau sebagai idolanya" ujarnya di antara gelak tawanya. "Tapi okelah. Dengan menganalisa tokoh yang Anda kagumi dan buku yang Anda semua baca ... rasanya Anda semua akan jadi orang besar dan bijak. Tolong kalau sudah menjadi orang besar, jangan lupa memikirkan nasib penganggur".
Share on Google Plus

About Unknown

0 komentar:

Posting Komentar