Budak Kitab

Ketika akan membaca suatu kitab suci, yang berasal dari wahyu yang diturunkan Tuhan kepada manusia dengan perantaraan Nabi, hati kitalah yang kita tundukkan kepada-Nya. Lebih dahulu kita telah berniat hendak mencari tuntunan bagi jiwa kita. Meskipun ada yang belum termakan oleh fikiran kita, kita tekankan fikiran itu dan kitapun percaya (iman).

Tetapi membaca karangan sesama manusia apapun jua pangkat dan gelarnya, kita harus tahu bahwa dia manusia dan kitapun manusia. Tidak semua apa yang ditulisnya itu harus kita terima. Sebagai manusia dia akan pernah khilaf. Dalam beberapa pandangan hidup kita tidak sama dengan dia. Cara memandang suatu persoalanpun berbeda-beda, dari sudut yang berlain-lain.

Kalau semua yang dibaca lantas ditelan saja, hilanglah jiwa kritis yang ada pada kita.

Pamor kaum muslimin menjadi padam, sejak 700 tahun yang terakhir, adalah karena ulama-ulamanya sudah menjadi budak kitab. Tidak keluar lagi pendapat yang baru, dicukupkannya dan diikutnya saja dengan membuta-tuli apa yang ditulis oleh ulama-ulama yang dahulu.

Penyakit beginipun kerap menimpa sarjana didikan Barat. Dia sanggup mengumpulkan ujar profesor anu, dokter anu, sarjana anu. Tetapi mana pendapatnya sendiri?

Selamilah sedalam-dalamnya fikiran orang lain dalam buku orang lain, agar kita dapat membanding dan mencari siapa diri kita sendiri. "Telan" kitab yang banyak itu semuanya, lalu saring dijadikan pupuk untuk menyuburkan diri sendiri dengan bentuk sendiri.

Rousseau berkata: "Saya tidak serupa dengan orang lain, meskipun saya tidak mengaku sayalah yang lebih bagus!"

- Sumber -
P R I B A D I - Buya Hamka, Bab VIII. Yang Melemahkan Pribadi (Halaman 101), 3. Budak Kitab (Halaman 105)
Share on Google Plus

About Unknown

0 komentar:

Posting Komentar